Laros dried fruit

(BorneoBangkit, Banyuwangi) Desa Jambewangi Kecamatan Sempu (Banyuwangi – Jawa Timur) adalah salah satu daerah yang memiliki  buah-buahan yang berlimpah. Potensi ini pun lalu memikat pemuda Jerman, Franz Purucker, untuk mengolah buah-buahan tersebut menjadi buah yang dikeringkan (dried fruit).

Dried fruit merupakan penganan yang boleh dibilang merupakan perpaduan antara kripik dan  manisan. Sebab dari segi rasa menyerupai manisan buah, sedangkan dari bentuknya terlihat seperti kripik.

Laros dried fruit

“Bisa dilihat sendiri keunikan produk kami. Sehat, tanpa minyak dan no preservatives (tanpa bahan pengawet),” kata Franz sambil memamerkan produk Laros Fruit-nya buatannya.

Franz menuturkan awal ketertarikannya akan dried fruit ini bermula dari perkenalannya dengan seorang warga Desa Jambewangi bernama Anang Setiawan di Malang setahun lalu. Ketika itu Franz menjadi volunteer yang mengurus anak-anak kurang mampu untuk dididik berjiwa wirausaha di Malang. Anang lalu mengajak Franz berkunjung ke desanya, Desa Jambewangi pada awal Januari 2016 lalu. 

Di situ Franz mendapati Jambewangi begitu kaya potensi. Salah satunya komoditas buah-buahan yang melimpah. Sayangnya, kata Franz, warga desa hanya sekedar menjual buah naga dalam bentuk asli (buah segar), tanpa ada inovasi untuk membuatnya menjadi produk lain yang lebih bernilai tinggi.

“Jadi kalau stock buah sedang melimpah, harga di pasaran bisa jatuh. Kasihan petaninya, mereka tidak bisa mendapatkan banyak untung. Saya ingin membantu mereka agar tidak terjadi fruit waste (buah yang dibuang karena busuk, tidak segar atau tidak laku),” beber Franz.

Franz pun lalu menemukan ide untuk mengolah buah-buahan tersebut menjadi dried fruit. Selain lebih tahan lama, Franz berpikir ini pasti akan memberi nilai tambah.

“Awalnya kami mencoba kelengkeng, dan rambutan. Lalu kami coba pasarkan di Bali, ternyata banyak yang suka produk Laros Dried Fruit. Tapi kelengkeng mahal, sementara rambutan kulit bijinya sukar dibuang, akhirnya kami cari buah lain,” kata Franz.

Pilihan mereka pun beralih pada buah-buahan lokal Banyuwangi, yakni buah naga, nangka dan salak. Mengapa harus buah naga, salak dan nangka?

“Kami pilih tiga buah itu karena orang bule jarang tahu buah buah tropis semacam itu. Orang bule seperti kami lebih tertarik dengan hal yang tidak ditemui di tempat kami. Makanya kami tidak memilih apel yang sudah lazim di sana. Dan produk kami diminati banyak orang,” ujar Franz.

“Beda dengan buah naga hanya bisa ditemui di Amerika Selatan. Itu pun bukan dalam bentuk dried fruit melainkan buah yang biasa disantap sebagai buah meja dan sudah di sliced (dipotong-potong),” tambah Franz. 

Laros dried fruit


Dalam pembuatan buah kering ini, Franz dan Anang melibatkan tujuh warga setempat. Mereka ada yang bertugas mencari pasokan buahnya, ada yang sebagai quality control, ada pula yang menangani proses pembuatan hingga packaging product. Franz dan Anang ini secara telaten mengajari warga agar produk yag dhasilkan benar-benar berkualitas. Menariknya, dalam proses pengeringan ini Franz telah melakukan beragam uji coba. Mulai dari penggunan oven untuk kue hingga kompor yang layak digunakan.

“Oven ini saya bikin sendiri, karena kalau pake oven untuk roti, buahnya terlalu kering. Kompor pun juga kami modifikasi sendiri, bukan kompor gas seperti biasanya, tapi dibuat dari kaleng biskuit agar temperatur panasnya tidak sampai membuat buah terlalu kering,” ujar Franz.

Laros dried fruit

Saat ini Laros dried fruit ini bisa ditemui di 16 store yang tersebar di Bali dan Jakarta. Harga jual per-pieces dibandrol Rp 30 ribu untuk orang lokal (Indonesia) dan Rp 35 ribu untuk orang asing. Dalam memasarkan produknya, Franz sudah melakukan promosi yang lebih advance. Dia membuat video promo bertajuk  ‘LAROS – Fruits for The Future’.  Video tersebut bercerita tentang perjalanan mereka dalam mewujudkan ide kecilnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.  

Video berdurasi 2 menit 56 detik itu telah diunduh, dan berhasil menarik para donatur untuk turut mengembangkan usaha warga Jambewangi tersebut. “Kami optimis usaha ini akan berkembang dengan baik karena produk ini kami buat secara ramah lingkungan dan menggunakan bahan lokal yang berkualitas,” ujar Franz yang lulusan Gymnasium Christian – Ernestinum di Kota Beirut, Jerman ini.(Belvana Cordelia)


Share:

Mr Indo Bangkit

Leave a Comment