RIBUAN WARGA DESA LOANO SEMARAKAN GREBEG LOWANO

(IndonesiaBangkit.Net, Purworejo) – 29 Oktober 2019 – Ribuan Warga Desa Loano dan kabupaten sekitar, tumpah ruah di sepanjang Jalan Raya Purworejo – Magelang km 5,5 – km 6, Mereka mengikuti tradisi kirab hasil bumi dalam Grebeg Lowano yang diselenggarakan tiga tahun sekali. Sebagian menjadi peserta kirab, lainnya memilih meramaikan dengan menonton di sepanjang jalan. Peserta gerebeg dari 12 dusun desa itu mulai berkumpul di halaman Masjid As Sakinah Dusun Tanuprayan, pada pukul 08.00.

Para pria mengangkat jodang berisi tumpeng, aneka olahan makanan dan hasil bumi. Setiap dusun membawa jodang hias yang masing-masing beratnya belasan hingga puluhan kilogram. “Memang berat mengangkat jodang yang beratnya puluhan kilogram, tapi karena dilakukan bersama-sama, terasa ringan. Kami juga senang bisa menghias jodang sebagus mungkin, sebab dilombakan antardusun,” tutur warga Dusun Pongangan Loano, Pamuji, kepada tim IndonesiaBangkit.Net.

Sementara para perempuan berpakaian khas petani, membawa keranjang anyaman bambu berisi hasil pertanian. Mereka mengenakan caping, ikut berbaris rapi ketika kirab dimulai dari Balai Desa Loano hingga Masjid Al Iman Dusun Loano Kulon. Kepala Desa Loano Sutanto, perangkat desa, dan pembawa benda pusaka, berada pada barisan paling depan. Sebelum sampai Masjid Al Iman, mereka berhenti di Gapura Singgelopuro yang merupakan bekas pintu gerbang Kadipaten Lowano, untuk melaksanakan ritual Unggah Titro Bumi. Air dalam ritual itu diambil dari tujuh sumber yang terdapat di Loano, beberapa hari sebelumnya.

Prosesi dilanjutkan dengan seremonial sedekah bumi dan kenduri di halaman Masjid Al Iman Loano. Ribuan warga berebut hasil bumi dan aneka makanan yang ada pada jodang. “Saya dapat makanan, nanti sampai rumah dimakan sekeluarga. Semoga dapat berkahnya dan kami selalu sehat, karena makanan itu sudah didoakan ulama desa,” ungkap Siti, warga Dusun Dukuh Kidul. Panitia Grebeg Lowano Erwan Wilodilogo mengatakan, grebeg tersebut adalah acara bersih desa yang merupakan manifestasi rasa syukur warga atas anugerah Tuhan selama ini. Rasa syukur antara lain karena masyarakat Loano tidak kesulitan air bersih meski kemarau panjang. Padahal pada beberapa desa di Purworejo, kondisinya memprihatinkan.

“Air berkurang, tapi tidak sampai kering, kebutuhan rumah tangga warga masih tercukupi. Ini juga salah satu yang kami syukuri, bahwa bumi Loano tidak sampai kering,” ujarnya. Acara grebeg dibuat meriah dengan mengharmonisasikan bersih desa dengan kebudayaan Mataraman dan Bagelenan. Loano adalah bekas kadipaten pada masa kerajaan Mataram, hingga kolonial, maka budaya Jawa sangat lekat dengan masyarakatnya.

Kegiatan tersebut juga menjadi upaya mengangkat pariwisata desa. Pemerintah desa, kata Erwan, memiliki konsep membangun desa budaya. “Pariwisata akan mengikuti budaya, apabila budaya maju, wisata pun demikian. Contohnya Bali yang menjelma jadi tujuan wisata karena masyarakat mau menjaga budayanya,” ucapnya. Grebeg Lowano dihadiri perwakilan Pemprov Jateng, Wakil Bupati Yuli Hastuti SH, Direktor Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita, jajaran forkompimda, dan budayawan Purworejo. Mereka mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap terus dilestarikan.

Direktur BOB Indah Juanita menuturkan, Grebeg Lowano bisa menjadi atraksi menarik yang layak dijual untuk paket wisata. Indah memastikan pengembangan kawasan otoritatif di Purworejo, Magelang dan Kulonprogo, bakal terhambat apabila tidak ada seni dan budaya sebagai daya tarik unggulan. “Kegiatan budaya harus dijadwalkan, jangan sama, masing-masih wajib punya keunikan. Kami sudah melakukan pemetaan dan pembinaan budaya di kawasan pengembangan,(Suryanedi)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Tags:
Share:

Mr Indo Bangkit

Leave a Comment