(IndonesiaBangkit, Jakarta) Aneh tapi nyata. Data ekonomi mikro Indonesia teraktual yang diwarnai dengan jeritan masyarakat dan para pengusaha kecil dan ritel ternyata tidak nyambung sama sekali dengan data indikator makro.

Dalam publikasi Bank Indonesia, Departemen Keuangan (6 Juni 2017)dan Bank Dunia, data indikator makro perekonomian Indonesia untuk tahun 2017 dan 2018 digambarkan begitu optimis.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1 2017 berada di angka 5,01 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal 1 2016 yang berada di kisaran 4,92 persen. Ini berarti lebih tinggi juga dibandingkan pertumbuhan kuartal 1V 2016 yang sebesar 4,94 persen.

Pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama 2017 ditopang oleh kinerja perdagangan ekspor dan import yang terus surplus karena perbaikan harga sejumlah komoditas dunia.Pengeluaran pemerintah turut pula berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi ini.Sementara dari sisi konsumsi rumah tangga meskipun masih cukup baik tapi kena copet inflasi.Tren pertumbuhan industri dari kuartal 1 hingga kuartal 11 2017 menunjukkan peningkatan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Tren pertumbuhan ini signifikan pada sektor otomotif dab makanan minuman.

Alhasil seperti disebutkan Bank Dunia, dengan lingkungan global yang mendukung ditambah fundamental dalam negeri yang kuat Perekonomian Indonesia akan memasuki 2017 dengan pijakan yang kuat. Disamping itu pengelolaan dan kredibilitas fiskal dinilai Bank Dunia telah membaik sebagaimana dibuktikan dengan peningkatan peringkat kredit dari Standard and Poor (S&P).

Tidak Matching

Problemnya kenapa kondisi mikronya begitu suram, dan ini diakui Menteri Keuangan Sri Mulyani karena imbas krisis selama 2014-2016 yang membuat daya beli masyarakat tergerus dan loyo.

So, jadi tidak boleh terlena dengan prestasi ekonomi makro.

Minimal ada beberapa karakter menonjol yang membuat tidak matchingnya indikator makro dan mikro tersebut.

Pertama, tingkat kesenjangan yang teramat akut di dalam perekonomian indonesia. Sinyalemen yang ada, 80 persen ekonomi nasional hanya dikuasai oleh 48 keluarga saja. Kondisi ini yang membuat data indikator makro dan mikro kita tidak nyambung. Sekitar 0,02 persen penduduk menguasai Rp 3.100 triliun atau 25 persen PDB (Produk domestik bruto) Indonesia. Tragisnya para orang super kaya tersebut numpuk kekayaaannya di luar negeri tapi mereka ngutang di dalam negeri.

Secara umum, potret nyata aktivitas ekonomi orang indonesia sebagian besar bergerak di sektor informal dan pengusaha kecil.

Yang ketiga, sistem yang dibangun oleh pemerintah dalam menggerakkan roda ekonomi adalah sistem neo liberal (pro pemodal dan orang kaya). Orang miskin hanya jadi pemain pinggiran saja.

Program infrastruktur yang digenjot pemerintah hanya menyentuh proyek2 yang terkait APBN dan pengusaha rekanan atas tidak merembes ke pengusaha bawah dan pinggiran. Akibatnya, problem daya beli masyarakat kebanyakan tidak kunjung terangkat. Tergerusnya daya beli masyakat bawah ini juga karena dihilangkannya subsidi barang2 publik seperti listrik. Padahal dalam teori ekonomi, inflasi itu adalah pencopet daya beli.

So, makin jelaslah kita memang indikator makro tidak nyambung sama mikro.(Ahmad Iskandar, Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun dan Atmajaya)


Tags:
Share:

Mr Indo Bangkit

Leave a Comment