GERAKAN MASYARAKAT ANTI KORUPSI DORONG PENERAPAN HUKUM POTONG TANGAN UNTUK KORUPTOR

(IndonesiaBangkit.Net, Lhokseumawe) – 21 Juli 2018 – Terkait penangkapan Gubernur Aceh, Irwandy Yusuf karena diduga terlibat korupsi, masyarakat mulai mewacanakan penerapan hukuman potong tangan. Gerakan Masyarakat Anti Korupsi mengaku mendukung penuh KPK melakukan pembersihan koruptor dari Aceh.

Adanya ancaman pelaku teror yang ancam angkat senjata apabila Irwandi tidak dibebaskan juga, menurut Germak harus segera direspon pihak penegak hukum. Tuntutan ini disuarakan Germak dalam aksi demo di depan taman Riayadah Lhokseumawe akhir pekan lalu.

Kepada IndonesiaBangkit.Net, salah satu peserta aksi, Tengku muslim atthahiry pimpinan dayah atau pesantren darul mujahuddin aceh utara ini juga meminta tangkap pelaku teror yang mengancam angkat senjata bila irwandi tidak di bebaskan harus ditindak. Kondisi keamanan aceh sendiri saat ini diakui relatif aman sehingga diharapkan tidak meresahkan masyarakat umum lainnya.

Sejumlah elemen masyarakat yang berdemo ini membawa poster poster dukungan terhadap KPK dan berharap terus ungkap skandal korupsi di seluruh aceh tidak hanya sebatas di pusat pemerintahan aceh, namun juga di seluruh kabupten kota di aceh.

Kordinator Gemak, khairul rizal mengatakan sudah saatnya penegakan hukum terhadap korupsi di tegakkan ,dan berharap pada dpra secepatnya mambuat kanun potong tangan terhadap karuptor. Aksi demo ini sebagai bentuk dukungan pada KPK dalam menumpas koruptor di aceh.

Para pendemo ini mengaku malu bila menghalangi proses hukum terhadap dugaan koruptor, selain itu gemak juga akan terus memantau dan memberikan dukungan pada kpk dan dalam waktu dekat ini pihaknya telah berkoordinasi  masyarakat  di seluruh aceh untuk  menggelar aksi susulan di banda aceh.

Sementara itu mantan ketua Acehnese Australia Association (AAA) Teuku emi syamsumi dari perth australia mengecam keras orang yang menggunakan nama organisasi  AAA  ini dan terlebih mengatasnamakan juru bicara gerakan aceh merdeka australia untuk menghambat proses hukum terhadap korupsi. Menurut Emi, keberadaan organisasi ini telah tiada dan pada 2011 lalu, Emi merupakan ketua terkhir  saat ia masih tinggal  di sidney “di australia tidak ada lagi gam dan simpatisan, pasca damai 2005 lalu.

“Jadi jangan ada lagi yang membawa bawa nama organisasi ini diisarankan kalau mau ,pakai  nama lain saja jangan membawa bawa nama acehnese australia association, sehingga tidak membingungkan masyarakat aceh, terlebih pernyataan itu membuat kami di australia sangat terganggu tegas Emi. (Bang Pon)


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Mr Indo Bangkit

Leave a Comment