banner-bagus1

(IndonesiaBangkit, Banyuwangi) Hari ini, Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur) menggelar Festival Bawah Laut di Lokasi Wisata Bangsring Underwater, Wongsorejo. Festival ini bukan sekedar even promosi wisata daerah namun sebuah kampanye konservasi ekosistem laut yang berangkat dari kesadaran nelayan. Uniknya lagi, nelayan Bangsring juga mampu mengemas area konservasi menjadi destinasi wisata yang ramai.

Underwater Festival

Pengelola Rumah Apung Bangsring, sekaligus ketua kelompok nelayan Bangsring Samudra Bakti, Ikhwan Arief, menuturkan dulunya perairan Bangsring menjadi lokasi penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan jenis potassium sianida. Penggunaan potassium ini dilakukan baik oleh nelayan yang menangkap ikan konsumsi maupun ikan hias.

Banyuwangi

Cara ini membuat ekosistem dibawah laut Bangsring seperti terumbu karang rusak parah, yang akhirnya menurunkan populasi ikan secara drastis. Ironisnya lagi, saat itu nelayan menganggap tidak mungkin menangkap ikan tanpa potassium.

Underwater Festival

“Mulai tahun 2000an kami para nelayan mulai mengeluh sedikitnya jumlah ikan yang berpengaruh pada pendapatan. Tapi saat keresahan itu muncul perilaku mencari ikan dengan potassium belum berubah,” kata Ikhwan. Saat itu, lanjut Ikhwan telah terbersit keinginan untuk merubah cara menangkap ikan dengan lebih aman. Salah satunya mencari alternatif potassium yang ramah lingkungan. “Tahun 2002 saya sempat mencari potassium ramah lingkungan tapi ternyata tidak ada. Semua potassium ya memberikan efek yang buruk buat ikan dan terumbu karang,” kata Ikhwan.

Kondisi demikian terus berlanjut hingga akhirnya pada tahun 2008 Ikhwan tersadar jika satu satunya cara mengembalikan jumlah ikan adalah dengan menangkapnya melalui cara cara yang ramah lingkungan. Dia pun membuat program perubahan untuk mengkampanyekan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan pada nelayan. Dengan melibatkan semua pihak mulai dari nelayan, keluarganya sampai tokoh agama dan masyarakat.

“Saat awal program ini kami luncurkan mayoritas nelayan menentang habis habisan karena kami dianggap melawan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan. Bahkan orang tua saya yang juga nelayan juga tidak mendukung,” cetus Ikhwan.

Ada sejumlah 200 an nelayan yang menangkap ikan di laut Bangsring. Namun waktu itu hanya 8 orang yang mendukung program perubahan. Bersama mereka inilah, Ikhwan meneruskan kampanyenya.

Underwater Festival

Salah satu caranya membangun atmosfer perubahan disekeliling lingkungan nelayan. Mulai dari memberikan sosialisasi dan edukasi di setiap perkumpulan nelayan, yang juga diikuti pengepul ikan, sampai keluarga mereka. Bahkan ceramah Sholat Jum’at di desa desa pun diminta memberikan nasehat bagaimana menjaga alam dan kelestarian laut.

“Kami benar benar mengkondisikan suasana perubahan di sekeliling nelayan sebagai upaya merubah mind set lama menjadi mind set baru yang lebih baik,” cetus Ikhwan. Selain membangun mind set, secara kelembagaan kelompok nelayan yang diketuainya juga memfasilitasi pengurusan perijinan kapal bagi nelayan yang mau merubah cara penangkapan ikannya. Mereka juga mendapatkan jaminan keamanan dari Patroli Kemanan selama menangkap ikan.

“Dengan cara-cara ini akhirnya banyak nelayan yang tertarik untuk mendaftar di kelompok kami dan mau mengubah kebiasaannya menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan,” ujarnya. Setelah banyak nelayan yang menghentikan pengeboman ikan, terumbu karang yang tadinya rusak mulai tumbuh kembali secara alami. Upaya transplantasi juga dilkukan untuk percepatan pemulihan. Ikan-ikan pun mulai kembali dan jumlahya terus bertambah. Besarnya manfaat yang dirasakan nelayan ini membuat mereka juga sadar untuk mengembangkan area konservasi.  Di area ini nelayan dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan baik menjaring maupun memancing.

Banyuwangi

“Mulai 2009 ikan-ikan sudah kembali. Area ini sebagai tempat berkembang biak ikan-ikan. Mereka akan tumbuh hingga besar sebelum akhirnya berenang ke laut lepas. Ini sebagai cara menjaga jumlah populasi ikan di laut,” tutur Ikhwan.

Berkat upaya konservasi yang dilakukan tersebut, pada tahun 2014 lalu Kelompok Nelayan Pimpinan Ikhwan mendapatkan bantuan Rumah Apung dari Kementrian Kelautan dan Perikanan. Rumah Apung inilah yang kini dikembangkan sebagai destinasi wisata oleh para nelayan. Pariwisata dilokasi inipun tumbuh pesat. Setiap bulannya jumlah wisatawan yang datang sebanyak 30 – 70 ribu orang.

Underwater Festival

“Dengan adanya rumah apung pendapatan nelayan meningkat. Mereka mendapatkan dua penghasilan baik dari menangkap ikan maupun wisata,” cetusnya.

Keterlibatan nelayan mulai dari menyewakan kapal, mengelola atraksi wisata, sampai guide untuk snorkling dan diving sampai menyewakan rumah mereka untuk homestay.(Belvana Cordelia)


Share:

Mr Indo Bangkit

Leave a Comment